Sunday, 25 October 2015

Pak Presiden, Hari Jomblo Nasional Dong!



Memenuhi salah satu janjinya sewaktu masih kampanye, Presiden Republik Indonesia—Jokowi—akhirnya menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional. Dalam pidatonya, presiden menjelaskan bahwa penetapan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terimakasih atas kontribusi para santri dalam usaha memerdekakan bangsa.

Seperti biasa, sebelum dan setelah ditetapkannya Hari Santri Nasional, banyak pro-kontra yang bermunculan. Para santri kebanyakan mendukung keputusan tersebut, hal itu bisa dilihat dari antusias mereka dalam mengikuti kirab atau syukuran peringatan hari santri nasional. Pihak yang menyayangkan keputusan presiden tersebut, mayoritas memiliki opini yang serupa, yaitu penetapan hari santri nasional seakan memberikan kesan bahwa ada sekat yang terdapat di masyarakat Indonesia.

Bagi kaum Jomblo, yang dikenal sebagai kritikus ulung, bukanlah sebuah kekecewaan yang timbul setelah penetapan hari santri nasional, namun rasa iri-lah yang akhirnya meluap. Rasa iri hadir karena kaum Jomblo semakin merasa terasingkan, merasa tidak diakui keberadaannya, diacuhkan, dipandang sebelah mata,

Sebagai jomblo, kami pantas cemburu. Intinya kami ingin para jomblo diberi hal yang sama. Hari Jomblo Nasional. Inilah sebab yang kami jadikan dasar:

1.    Populasi.

Kami percaya bahwa mayoritas penduduk republik ini adalah Muslim, dan kami tidak mempermasalahkan hal itu. Hal tersebut yang menyebabkan opini “adanya sekat antar masyarakat” muncul. Nah, tuntutan kami agar presiden membuat kebijakan hari jomblo nasional bukan tanpa sebab, karena keberadaan kaum jomblo ini sangatlah merata. Faktanya, dipandang dari aspek apapun selalu ada jomblo yang terdeteksi. Dari agama apapun, suku manapun, umur, jenis kelamin, sampai orientasi seks pasti ada Jomblo yang masih setia menunjukkan eksistensinya. Sabang sampai merauke, kota sampai desa, jomblo pasti ada. Tanpa peduli apapun jomblo tetap ada. Jomblo juga Indonesia.

Apalagi di zaman yang sudah tak karuan ini, populasi jomblo semakin menjamur karena budaya patah hati yang semakin mengakar. Bayangkan, anak kelas 3 SD pun kini sudah melabelkan dirinya sebagai kaum Jomblo. Hal itulah yang merusak citra Jomblo di mata masyarakat. Apapun yang melandasi orang-orang untuk menyebut dirinya Jomblo. Positif atau negative yang mereka lakukan, kami selalu bergandengan. Karena jomblo tetaplah jomblo.

Kami akan tetap ada dan berlipat ganda. Meskipun selalu sendiri di rumah dan ditikam sepi, kami tak akan mati. Kami takkan pernah hilang. Jomblo selalu menuntut, camkan!

2.    Kontribusi.

Yakin kalau enggak ada jomblo yang ikut angkat bambu runcing sebelum tanah ini merdeka? Kami selalu ada!

Mungkin berkat jasa-jasa Jomblo ini Pak presiden bisa melenggang ke istana. Banyak relawan bapak yang berpredikat Jomblo yang turun ke jalan. Ada yang benar-benar total mendukung, pasti ada juga yang sok menyibukkan diri agar tak terjebak masa lalu dan menghidarkan sosial media mereka dari bunyi “krik-krik”

Namun, sangatlah angkuh dan terkesan terlalu cepat menarik kesimpulan jika ada dari kalian yang mengatakan bahwa “jomblo itu masyarakat tanpa kontribusi”. Pertama, jomblo tidak pernah sombong (lagian apa yang disombongkan? hehe) akan kontribusi apa untuk Negara. Karena jomblo selalu melakukan sesuatu dengan Hati* (*Hati yang kosong) jadi bisa begitu fokus pada proses tanpa peduli apa kata orang. Lihatlah lebih dekat dikampus-kampus, selalu terdapat skill-skill menonjol dari beberapa mahasiswa yang setelah ditelusuri kebanyakan dari mereka tergabung dalam jomblo Indonesia tanpa ikatan. Lebih dekat lagi ke organisasi mahasiswa, jomblo pegiat seni & teater yang tanpa lelah dan peduli waktu untuk latihan, jomblo pecinta alam yang mempersunting bumi Indonesia, dan jomblo pers mahasiswa selalu memberontak tanpa ucapan selamat pagi dari kekasih hati.

Jomblo itu bebas, maka jomblo itu fokus. Ribet jika kau ingin menghidupi seni dan budaya sementara pacar membuatmu tak berdaya. Berat jika kau ingin melestarikan nusantara dan naik gunung sementara asmara tanpa jelas membuatmu hilang arah sampai bingung. Susah jika kau ingin berdiskusi dan melawan sementara orang lain yang bernama Cinta mendebatmu agar tetap tampil menawan.

Jadi, jomblo tak hanya berkontribusi, tapi juga berkarya. Dan yang pasti, berjuang.

*Berdasarkan riset dari Day!nstitute, Jomblo yang konsisten dengan kejombloannya memiliki potensi untuk lebih fokus dari golongan lainnya (Pacaran, longdistance, friendzone, pengidap virus PHP & Tikungunya).

Monday, 19 October 2015

Jika Aku Pencuri


Aku ingin mencuri Tanah dari Hujan, agar kau bisa dengan mudah memahami bahwa aku ingin kau cemburu.
Aku ingin kau seperti Tanah, yang bermanfaat walau sedang menunggu, yang tetap menunggu meski Hujan tidak datang. Dinginku berhak menjadi pelukmu, jika rindumu setenang itu.

Aku ingin mencuri Hujan dari Tanah.
Lagi-lagi ku tampakkan mendungku, aku ingin kau lebih cemburu. Aku selalu suka Hujan. Aku ingin kau selalu berjuang, tak peduli jumlah kau tuang. Lembut walau tampak tergesa-gesa, tak peduli apakah Tanah masih menunggu. Kau selalu datang.

Aku ingin mencuri Gerbong kereta yang kita naiki.
Aku ingin kau ingat. Sepasang kita menanti di kursi kayu, melirik arah datang hal kokoh yang kita tak pernah tahu. Tersentak tanpa teriak, kita dan mereka beranjak. Tujuan yang sama, tanpa tahu bagaimana akhirnya. Tapi maknanya, dari awal kita memilihnya.

Aku ingin mencuri Boneka yang kau peluk.
Aku ingin kau tahu. Kau punya hati yang lebih lembut, tutur dan janji yang lebih rapi dari jahitan yang ada di kucing putih itu. Ia tidak memikirkanmu, menginggatmu, dan bahkan ia tak pernah bisa memelukmu. Tapi, kau selalu melakukannya.

Oh jika aku pencuri…

Aku ingin mencuri Cerita yang kau tulis.
Kini aku yang cemburu. Selain sujud dan dinginnya mimpi, ialah yang sering merenggut tengah malammu.  Mengulanginya, hapus kesalahan yang terkuak. Menyadarkan setiap kata, tanpa teruap. Kau melakukannya.

Aku ingin mencuri Ibumu.
Ia selalu membuatmu lebih teduh. Diselipkan hujan dalam do’a yang terkirim padamu walaupun kau tak pernah memintanya.

Aku ingin mencuri Ayahmu.
Ia selalu membuatmu lebih kuat. Bagimu, lengannya adalah rumah. Satu kecupan darinya, kau akan menjadi seperti ibumu.

Mungkin jika aku pencuri…

Aku ingin mencuri Senyumanmu.
Bukannya aku tak ingin kau tersenyum. Tapi kau tak pernah tahu apa yang terjadi ketika kau tersenyum. Leherku terputar mengiyakan mataku mencari hal sejuk itu, lidahku tergigit agar aku tak tertangkap basah mengikutimu tersenyum dan hatiku terasa tertinggal di dalam tubuh boneka yang kau peluk.

Aku mencuri Hatiku sendiri, agar kupastikan ia tak bisa mencintai siapapun lagi.
Dengan caraku sendiri, aku menyembunyikannya dengan tanah sekuat lengan Ayahmu, percik hujan seteduh do’a ibumu, dan dengan pelukan yang tak terlepas, dibawah bangku di gerbong kereta yang kita naiki…

Jika aku pencuri, maka aku akan mencuri.

Jika aku punya cinta, maka aku mencintaimu.

...

Tuesday, 24 March 2015

Lelaki Pemalu





 

Senja akan segera berlalu, seorang lelaki melintas menyimpan malu. Aku.

Aku pulang. Setelah berjam-jam melakukan rencana yang hampir selalu meleset. Lalu menuju kamar, setelah melakukan ritual makan malam bersama keluarga yang selalu menyibukkan diri. Tersita tatapanku kepada buku yang belum habis terbaca, halaman 117: “Satu-satunya kenikmatan sejati di dunia ini adalah untuk menyaksikan segala sesuatu ‘berbalik’ menjadi bencana, untuk akhirnya keluar dari determinasi dan indeterminasi, dari peluang dan keniscayaan, dan memasuki kenyataan tentang keterkaitan yang memusingkan dimana, suka atau tidak suka, segala sesuatu sampai pada akhirnya tanpa melalui cara-caranya, dimana kejadian-kejadian menghasilkan efek tanpa melalui penyebabnya.” Oh, persetan Jean Baudrillard. Semangat berkenalan dengan konsep reversibilitas lemah menguap. Ruang mendadak senyap, saat seolah terbisik kalimat dari lorong laci meja belajar: “Karena dunia ditiup dengan ketidakpastian!” Sejenak dingin, apakah Sinterklaus salah alamat? Mimpiku selalu gelap, itulah kenapa aku selalu terlelap. Tidur.

Pagi itu membahagiakan. Saat aku selalu berhasil menjinakkan cermin. Aku lebih berani, karena dia takut menyatakan bahwa aku lelah berpura-pura. Cermin itu mati.

Aku terpaksa terpaku dikelas. Melirik dosen wanita menjelaskan kaitan sabun mandi, konsumerisme dan pemujaan duniawi lainnya. Lamunan tersentak.“Kamu harusnya malu, saya menerangkan apa yang kamu belum tahu. Dan kamu bercanda!” ibu yang selalu bertopeng muda itu mengingatkan seorang mahasiswa. Seketika menunduk, apa dia malu kepada semua orang di dalam kelas atau jatuh cinta kepada meja?

“Hya, aku mencintaimu. Maaf aku mengatakannya, seharusnya aku malu. Tapi memang seperti itu adanya.” Fi mengatakan rangkaian kalimat yang terlalu jauh, dia pikir aku telah mengenalnya sedekat jarak antar bulu matanya.

Aku melirik tatapannya yang beku, lirih. “Aku sedang sedih.”

“Mungkin aku bisa menghindari sedihmu,” kalimatnya dingin. Apa dia berpelukan dengan Sinterklaus di laci mejaku?


888

Aku bersua malam. Aku selalu terdewakan. Saat membaca buku, aku merasa orang yang paling pintar. Hanya ada tuhan diatasku.

“Hya, siapa saja yang ada dihatimu? Jangan bilang kalau hanya aku. Ruangan siapa yang paling lapang? Apakah untuk tuhan? Iya kah? Tapi tuhan yang mana yang kamu beri bagian? Bahkan kamu tak pernah membicarakan tuhan dan bagaimana caramu mengingatNya! Apa dia sama dengan tuhanku? Ataukah hatimu dominan untuk orangtuamu? Mereka yang tak sepenuhnya memberikan hatinya untukmu? Mereka yang lebih sering mengecup keningmu lewat e-mail? Ataukah hatimu hanya untukku? Tapi jika iya, aku akan lebih takut.”

Hingga bisa memahami apa arti pesan dari Fi, aku tak paham apa atau siapa yang merasukinya. “Aku tahu, apapun jawabanku, hasilnya takkan berubah.”

“Aku ingin tahu!” sikap yang ia sembunyikan dari oranglain.

“Aku hanya punya satu ruang. Tapi aku punya banyak toples kaca. Ya, satu ruang dalam satu toples. Ikan hias berwarna orange, ikan gigi tajam, ikan yang sedang sakit dan bahkan ikan pembersih kaca berada di ruangan mereka di masing-masing toples. Jika terpisah mereka takkan saling mengganggu.” Aforismeku.

“Maksudnya?”

“Maaf, kamu tak pernah paham bagaimana aku. Aku punya banyak hati, dan bukankah jika seperti itu aku adalah lelaki yang punya rencana? Menempatkan sesuatu dengan benar-benar adil? Isi kepalaku bukan seperti gudang kosong yang terbakar. Fi, mungkin bagimu aku hanyalah lelaki pemalu. Tapi sampai detik ini aku juga manusia yang berpikir.”

“Aku minta maaf,”

“Fi. Mulailah dari yang paling sulit: maafkanlah dirimu!” perbincangan ini sampai terasa begitu pagi. Dingin dan semakna embun. “Bagaimanapun akhirnya, akulah orang yang harus menjawab semua pertanyaan dari pihak lain, orang yang harus menunduk saat berpapasan, orang yang harusnya malu. Di sanalah, cara terakhir lelaki pemalu melindungimu.”

“Hya. Apa semuanya bisa diperbaiki?”

“Lelaki adalah wanita yang tak sempurna, itu kata seorang filsuf. Tapi maaf, aku tak bisa menemukan sudut mana yang harus diperbaiki. Mungkin, Karena dunia ditiup dengan ketidakpastian!”

Wednesday, 1 October 2014

Kenapa harus memiliki semuanya? [part 1]



"Kamu adalah apa yang kamu miliki."

Berawal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Karena hidup di zaman teknologi, jadi sebagian besar aktivitas kita juga menggunakan teknologi terapan yang menjadi alat bantu kerja, misalkan kompor untuk memasak, dan sebagai media atau penyalur komunikasi-informasi, seperti telepon untuk berbicara jarak jauh dan televisi sebagai sumber informasi dan hiburan. Dan akhirnya aku akan berbicara tentang KEBUTUHAN.

Dibeberapa kesempatan, aku bergabung (menemui; mendekati) sekelompok teman, beberapa teman di setiap kelompok pasti ada yang bertanya tentang kebutuhan teknologi kepadaku. Aku simpulkan percakapannya seperti ini:

“mas, Pin BBmu berapa?” tanya seorang teman kepadaku.
Aku memburu handphoneku dalam kantong, menyodorkannya sampai temanku benggong. “nih,” tak lupa kuberi senyuman biar enggak dikira sombong. “hehe.”
“hmm..” dia mengerutkan bibirnya dan sedikit tersenyum.

Apa aku menjengkelkan? Enggak laah..
Biasanya setelah percakapan itu terjadi, maka si lawan bicara akan pergi sementara dari hadapanmu atau kalaupun melanjutkan perbincangannya, pasti akan membahas hal lain.
Menurutku jawaban dari “Pin BBmu berapa?” diatas adalah jawaban yang paling efektif dan sempurna sampai detik ini  coba bandingkan dengan jawaban dan prediksi percakapan dibawah ini:

“mas, Pin BBmu berapa?”
“Oh aku enggak pakai BB dek, hehe”
“pasti pakai Android ya? Tapi belum download BBM ya?”
“Enggak dek, aku emang gak niat buat BBM,hehe”
“yaudah tapi pasti punya Whatsapp, Line, BeeTalk, WeChat, KakaoTalk, Instagram, Path kaaaan?”
“AKU CUMA PUNYA KAMUH!” saking emosinya sampai pengen ngomong gitu ya.. HAHA.

RIBET kan? Kebanyakan “hehe” sih.

Hmm.. Tapi sepertinya enggak enak kalau percakapan jadi gini:

“mas, Pin BBmu berapa?”
“oh aku belum punya hape dek, hehe”
“lhoh kenapa enggak beli? Ini aja punyaku hampir 4 juta buat chasingnya doang”
“ASTAGFIRULLAH! Buat apa mahal-mahal kayak gitu? Emang habis itu kamu jadi keren? Bisa terbang? IP Cumlaude? Balikan sama mantan? Disayang mertua? Bisa foto sama Maudy Ayunda gitu? HAH!”
Badannya gemetar. Sambil gigit jari, dia berkata dengan lirih, “apah?”
"Ngapain? Jangan-jangan kamu maksa ibu buat beli itu, ingat ibumu bukan wonderwomen yang bisa terus menahan rasa sakit karena menurutimu! Apa jangan-jangan lagi kamu mendapatkan uang itu dengan cara yang tidak sholehah! Jual bakso boraks, nasi gorang tikus, korupsi kuota impor daging sapi, korupsi dana haji, atau nipu orang jual hape second tapi ternyata hape bekas?!"

Eh, hape bekas itu hape second enggak sih? -_- Lupakan tentang hape bekas, tapi jangan lupakan attitude. Karena attitudelah yang membedakan antara anjing dan Superman. HOHO.

Kenapa harus memiliki semuanya? Apakah memiliki itu sesuatu kegiatan yang keadaannya selalu abadi? Apakah hal yang kita miliki akan selalu bersama kita? Apakah kesetiaan adalah hal abadi? Apakah arti memiliki itu? Apakah arti setia? Apakah arti abadi? – Kenapa ada banyak jawaban yang belum ditemukan untuk pertanyaan yang lebih banyak?

Memiliki dan setia adalah suatu harapan dalam perasaan. Keabadian adalah kondisi dan prediksi oleh sesuatu yang tidak abadi. Jadi keabadian hanyalah mitos, tak terbuktikan. – Menurutku.

Intinya: Apakah yang telah kita miliki adalah yang seharusnya kita miliki?

Jika muncul pertanyaan diatas maka akhirnya akan membicarakan tentang kemanfaatan. Ukuran kemanfaatan suatu hal, benda ataupun tindakan selalu bersifat Relatif. Relatifitas tersebut hadir karena takaran kemanfaatan/kegunaan sangat bergantung kepada siapa yang memanfaatkan dan menggunakannya. Di waktu dan kondisi tertentu kemanfaatan dapat berubah, menjadi lebih bermanfaat atau menjadi sebaliknya. Misalkan, Laptop. Mahasiswa semester akhir menggunakan laptop untuk proses penulisan skripsi, lebih bermanfaat dari pada pengangguran gaptek yang memegang laptop, laptop pun menjadi pengangguran mendadak. Beda hal dengan pecandu geme menggunakan laptop untuk bermain game dan membuang waktu dibanding pemulung yang menjual laptop hibah untuk membeli beras penyambung nyawa. Game = tersier dan Makan = primer.

Aku juga kadang bingung sih.

Aku enggak punya BlackBerry, Android, Whatsapp, Line, BeeTalk, WeChat, KakaoTalk, Instagram, Path, dan lain-lainnya yang belum aku ketahui dan yang belum ditemukan. Sms? Telpon? Aku cuma punya Facebook dan Twitter yang bisa berteman dengan teman secara maya walaupun aku bisa ketemu langsung secara nyata dengan mereka; aku cuma punya Blog yang bisa memuat tulisan, curhatan, makian yang akupun enggak harus bayar untuk sekadar memuatnya dan bahkan disana enggak ada editor cerewet yang semena-mena ngedit tulisanku; aku juga cuma punya Tumblr yang bisa memuat foto-foto yang secara bebas aku pamerkan disana, that’s my instagram; aku juga cuma ikut Postcrossing, disana bisa saling bertukar kartu pos antar Negara antar benua. Banyak jalan, dan itu enggak selalu sama.

Banyak media, banyak alat untuk menghapus jarak dengan cara yang tak langsung atau dengan perantara. Ketika mereka mulai semakin hidup, peneliti sosial gaya tradisional akan semakin mati. Pasti dalam pikiran kita merasa bahwa lebih baik bertatapan langsung daripada melalui media tak langsung, pasti. Karenanya masih ada kata “Kangen” walaupun setelah berkangen-kangenan lewat telepon. Karenanya masih ada alasan “Aku enggak bisa LDR-an” dalan akhir kisah cinta. Ah kalian.

Aku pernah tanya temanku:

“atas dasar apa kamu pada suatu waktu memilih aplikasi ini daripada aplikasi itu dan aplikasi lainnya?”
“hm.. aku tau maksudnya. Karena lagi suka aja pakai ini, lha temen-temen yang lain banyak yang pakai ini juga. Tergantung mood. Kemarin juga ganti sih karena ada yang baru lagi. Gitu sih, binggung jelasinnya.” Terangnya.
“berarti besok bisa ganti dong? Karena bosen, ada yang baru, atau temennya sepi. Gitu.”
“iya, gitu juga sih.” Dia sepakat.

Karena mood, perasaan dan keadaan. Enggak ada yang abadi. Guys, no one perfect!

Kebutuhan utama manusia secara individu yang sering dianggap remeh adalah interaksi. Interaksi terkadang tidak dianggap dalam kategori kebutuhan oleh manusia. Interaksi terjadi karena manusia memiliki kebutuhan dan keinginan lainnya. Misalnya, ketika mengarjakan soal, seorang siswa melakukan kesalahan dalam menulis jawaban, untuk membenarkan tulisannya dia harus meminjam penghapus yang dia tidak punyai kepada temannya. Nah, itulah interaksi karena kebutuhan yang lain.

Coba banyangkan, kalau setiap manusia secara individu memiliki apapun yang dibutuhkan!

Thursday, 22 May 2014

Surat Untukmu




Hai,

Selamat pagi,
Aku ucapkan selamat pagi untukmu, karna aku ingin lirikan matamu kulihat disetiap pagiku.
Apa surat ini sampai pada kamu yang kutuju?
Tentunya jika sudah kamu baca, artinya sudah sampai pada tujuan.. hehe
Ini adalah surat pertamaku untukmu, tapi sudah dua kali ini aku menulis surat. Surat pertama kutujukan untuk saudara kembarku. Pastinya dia memiliki tanggal lahir yang sama denganku.

Tuesday, 6 May 2014

FRIENDS



Free and never end.
Hai. Membahas teman, menurutku teman itu gratis dan tidak ada habisnya. Gratis, karena untuk mendapatkannya tidak memerlukan uang, upah ataupun upeti, malah kita bisa bebas memilih, bebas memilah. Saking gratis dan bebasnya, teman itu sangatlah banyak keberadaannya, berbagai jenis dan tipe juga. Menurutku kalimat “mencari teman” itu agak keliru, yang benar “memilih teman”, karena teman itu sudah tersedia dan tinggal memilihnya saja. Semua bisa dijadikan teman, karena pada awalnya mereka adalah teman. Banyak orang berucap “belajar malam dengan ditemani secangkir kopi”, nah secangkir kopi saja bisa disebut teman, apalagi individu-individu bernyawa yang tentunya ada di sekitar dan di keseharian kita. Misalnya tukang tambal ban, bapak tukang tambal ban itu membantu kita dalam membenahi ban kita yang bocor, mereka memiliki sifat dasar sebagai teman: membantu. Dan teman tambal ban tersebut menjadi teman kita dengan menempuh proses, salah satunya proses membantu, atau lebih luas lagi bernama interaksi.

Wednesday, 16 April 2014

Rumah Lego


Seperti halnya permainan lego, tulisan ini mengibaratkan perasaan bisa disusun dan diubah bentuk semaunya, tanpa merasa bersalah, tanpa ikatan apapun pada bentuk sebelumnya.

Kan kupunguti kepingan hidupku, kuambil satu persatu. Dan kan kubangun lagi, seperti menyusun rumah lego. Jangan khawatirkan apa jadinya, karena kalau ada yang keliru, kalau ada yang tak pas dengan hati, kita bisa menyusunnya kembali.

Seperti halnya dengan tiga kata ajaib, aku cinta kamu, yang mampu menciptakan kehidupan seseorang, sekaligus mampu menghancurkan kehidupan seseorang. Aku tak peduli lagi dengan kata itu. Hatiku, bisa kususun ulang. Tapi, seluruh cinta itu hanyalah untukmu.

Karena aku, adalah satu-satunya orang yang kau miliki, yang kau percayai untuk menyusun kehidupanmu. Saat mendung menggantung, hari gelap di bulan Desember yang dingin, kita ada untuk saling menghangatkan. Saat hatimu galau dan tak bisa disembuhkan, aku akan selalu ada untukmu, untuk melindungimu dari badai kehidupan ini, yang sewaktu-waktu bisa menghancurkanmu.

Tenang saja, hatiku tak mudah tersentuh. Tenang saja, aku tak punya cinta. Aku tak mudah jatuh cinta. Tapi aku sayang kamu, karena hanya kamu lah yang kumiliki. Dari segala hal yang kulakukan, semua kulakukan demi dirimu. Sepertinya, aku semakin menyayangimu akhir-akhir ini.

Mungkin kau pikir aku tak peduli. Memang begitulah. Atau malah kau pikir aku tak waras. Bisa jadi. Tapi, bukan karena aku mencintaimu. Aku hanya peduli padamu. Aku sayang kamu, tapi hanya sebatas itu. Kurasa akhir-akhir ini aku semakin menyayangimu.

Kan kulukis dirimu serupa angka, agar bentuknya jelas tak kemana-mana. Lalu kuwarnai, agar tak semenyeramkan angka yang kaku tak seperti bahasa.
Jika seluruh keadaan sudah membaik, aku akan memamerkan gambar dirimu, kubingkai dengan cantik, kupajang di dinding. Agar semua orang mengenalmu dan kau jadi tambah percaya diri karena hal itu.

Memang tak pantas kukatakan semua ini padamu. Bahwa aku tak peduli, bahwa aku tak mencintaimu. Tapi, aku pernah berada di posisimu. Tertolak, sendirian. Kini, aku tak berani berharap lagi. Aku sayang kamu, dan ini sudah cukup. Aku tak berani meminta kau membalasnya. Cukup kuserahkan saja hatiku padamu, rawatlah dengan baik, jangan kau siakan.

Dan biarkan aku merdeka menjalani hidupku. Tanpa jatuh cinta yang membelengguku. Biarkan saja diriku menjelajah segala rasa, berkelana ke mana-mana. Karena sepertinya, yang menghubungkanku dengan rasa jatuh cinta telah teputus. Dan menyayangimu, adalah batas terakhir yang bisa kulakukan.

Ed Sheeran